Tampilkan postingan dengan label Tausiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausiyah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 April 2021

Beda Zaman

Standard



Orang sepertiku seukuran dengan zamanku. Jika ditukar ke zaman lalu, tak kuatlah aku. 

✅ Zaman ketika seseorang menulis buku bukan demi seminar, tetapi semata-mata demi ilmu.

✅ Zaman ketika seseorang harus pasang badan agar sahabatnya tak tertebas pedang.

✅ Zaman ketika pemimpin memanggul gandum untuk mendatangi sendiri rakyatnya yang kelaparan.

✅ Zaman yang mengharamkan uap makanan menyiksa yang kelaparan. 

✅ Zaman ketika nasehat begitu melimpah dan perdebatan begitu rendah. Di zaman itu, hanya untuk memburu kebenaran sebuah ucapan, seseorang bisa melintasi batas negara dan bahaya. 

Berbeda dengan sebuah zaman ketika Hoax dan Gossip menjadi hidangan publik.

Zaman ketika memukul bedug sahur jam dua dini hari di depan rumah orang dianggap sebagai ibadah, sampai bayi tetangga rasanya mau melompat dari kandungan. 

Selamat istirahat, semoga rahmat dan kasih sayang Allah SWT senantiasa tercurahkan kepada kita semua. Aamiin.  (#𝓪𝓯_𝓶)

Selasa, 27 April 2021

Selamat Tinggal Kelaparan

Standard


Semenjak kecil hingga sekarang kita dijejali pemahaman bahwa puasa itu sebentuk _"empati berjama"ah"_ kepada kaum kekurangan. Kita belajar menghayati kelaparan seperti laparnya orang yang tidak punya makanan.

Kita paksa diri kita untuk secara sadar menahan diri dan menjauh dari pengalaman lahiriah dan batiniah kelaparan lebih dari 13 jam.

Pada saat-saat menjelang berbuka, atau bahkan semenjak sore tiba, entah berapa di antara kita yang sibuk menyiapkan segala sesuatu dengan menu yang tidak bisa dibilang sederhana. Semua televisi dan radio, mewartakannya. Tak ketinggalan di dunia maya semisal Facebook.

Kita berbuka dan segera tenggelam dalam perayaan sebuah pesta, hidangan memenuhi meja, bila perlu pinjam meja tetangga untuk menampungnya. Kita seperti memekikkan penegasan: "Selamat Tinggal Kelaparan!!"

Tentu banyak pula yang terus berfikir dan melakukan ibadah dan keshalehan sosial tanpa terjerembab dalam glamour pesta. Terus mengingatkan diri, bahwa di luar sana banyak anak manusia yang berpuasa tanpa diniatkan, tetapi terkondisikan, tanpa diniatkan, tetapi tiada pilihan, tanpa kesadaran, tetapi keharusan.

Mereka berbuka kapan saja, dan seketika, saat menemukan segala apa yang dapat mengganjal perut mereka untuk kemudian segera melanjutkan "puasa" tanpa tahu kapan sahur, kapan imsak, dan entah kapan dapat berbuka.

Lalu dimanakah puasa kita?

Apakah rasa lapar yang sedang kita transmisikan? Ataukah sebentuk keberpihakan yang tidak boleh berkesudahan kepada sebagian di antara kita yang tiada berkesempatan mereguk rizki seperti yang kita nikmati?

Dan empati tadi mungkin sedang tergugu sendiri di pojok sejarah. Ia menangis tanpa airmata. (#𝓪𝓯_𝓶)

Selasa, 20 April 2021

TUKANG ES KELAPA MUDA

Standard

Suatu sore sekitar 10 tahun lalu, saya dan seorang teman mampir di sebuah masjid untuk sholat Ashar. Usai sholat mata kami tertuju ke sebuah warung es kelapa tidak jauh dari masjid. Kami pun mampir dan memesan.

Di sana terlihat seorang pria sedang duduk menikmati es kelapa. Sedang pemilik warung itu adalah sepasang suami-istri. Dari logatnya saya menduga mereka berasal dari Medan.

Tak lama, datanglah seorang bocah berusia kira-kira sekitar 7 tahun. Bocah itu mendekati kedua pemilik warung sambil cium tangan. Bocah itu mengenakan peci putih dan baju koko, sepertinya ia baru selesai mengaji.

Pria yang datang sebelum kami bertanya, "Ini anak bapak?"

Pertanyaan itu dibenarkan oleh penjual es kelapa.

Pria itu lalu menyapa si bocah, "Habis pulang ngaji ya, dek?"

Anak itu mengangguk.

"Ngajinya sudah sampai surat apa?", tanya pria tadi.

"Surat Al-Mulk," jawab anak itu singkat.

Mendengar jawaban bocah itu, saya dan teman mulai tertarik dan pasang telinga, karena anak usia 7 tahun sudah belajar ngaji surat al-Mulk, surat yang ke-67. Pada saat yang sama, saya lihat mimik bangga yang tersirat di wajah kedua orang tuanya yang berpofesi sebagai penjual es kelapa.

Pria tadi bertanya lagi, "Kamu hafal surat A-Mulk?"

Anak itu menjawab dengan anggukan.

"Boleh om test ya?", tanya pria tadi kepada sang bocah. Lagi-lagi si bocah menjawab dengan anggukan.

Pria itu lalu membaca penggalan awal ayat ke 16 dari surat Al-Mulk dan meminta bocah tersebut untuk melanjutkannya. Bocah itu membaca dengan fasih ayat ke-16 :

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ 

Saya dan teman mulai colek-colekan menikmati tontonan menakjubkan dan gratis ini. Terlihat kedua orangtuanya tidak hanya menikmati, namun ada gurat rasa bangga di wajah mereka.

"Subhanallah, boleh om minta kamu baca satu ayat lagi?!", pinta pria tadi.

Anak itu pun tanpa sungkan membaca ayat lanjutannya. Tatkala ayat ke-17 usai dibaca oleh sang bocah, maka kami semua bertasbih memuji Allah dengan suara yang lebih keras.

Pria itu pun mengeluarkan uang dari sakunya. Ia berujar, "Aku ingin memberi hadiah untukmu sebab kamu sudah hafal surat Al-Mulk."

Pria itu memberi selembar uang pecahan Rp 50.000 kepada si bocah dan ia pun langsung cengengesan kegirangan. Tak lama berselang, pria itu menambahkan pemberiannya. Kali ini ia berikan pecahan Rp 100.000. Dan bocah itupun bertambah girang.

"Kalau anaknya sudah hafal surat Al-Mulk, pasti kedua orangtuanya lebih banyak lagi hafalannya," ujar pria tadi kepada penjual kelapa.

"Hhhuuufff... Boro-boro hafal pak, baca Alquran saja kami berdua tidak bisa," jawab ayah si bocah.

"Insya Allah kalian berdua bisa masuk surga sebab anak kalian menghafal Alquran. Namun saat di surga, mungkin kepala kalian selalu menengadah ke atas, karena surga anak ini pasti jauh lebih tinggi kedudukannya di banding kalian. Bila kalian mau bersama-sama di surga, maka rajinlah membaca dan menghafal Alquran," pria itu menyudahi taushiyah singkatnya.

Kedua orangtua bocah tadi menganggukkan kepala tanda setuju.

Saya dan teman pun bangkit dari duduk untuk membayar es kelapa yang telah kami minum. Pria tadi berkata, "Maaf bapak-bapak, izinkan saya mentraktir kalian berdua. Saya amat bahagia sore ini."

Kami berdua saling pandang lalu kami mengangguk dan berterima kasih kepadanya.

"Berapa semua harga es kelapa ini, pak?", tanya pria tadi kepada bapak penjual.

"Tiga gelas Rp 30.000 saja", jawabnya.

"Wah.. ini luar biasa. Alhamdulillah, harga surat Al-Mulk lebih mahal dari es kelapa. Ini baru benar!", kata pria tadi.

Saya dan teman lalu berpamitan. Saat motor yang kami kendarai meninggalkan warung tadi, Allah SWT izinkan mata ini melihat sebuah pemandangan yang teramat indah. Di sana terlihat ibu-bapak penjual es kelapa tadi tengah membelai kepala anaknya yang telah hafal surat Al-Mulk.

Dalam hati tersirat makna bahwa anak itu telah membuat kedua orangtuanya bangga di hadapan makhluk saat di dunia. Saya yakin, anak itu pun akan membuat bangga kedua orangtuanya di akhirat di hadapan Allah Sang Khalik, sebab hafalan Alquran yang dimilikinya.

Saya pun berdoa dengan gumam dalam hati, "Ya Allah.. muliakanlah aku, keluargaku, dan orangtuaku dengan cahaya Alquran."

Segala puji bagi-Mu, ya Allah atas hadiah tontonan indah sore itu. (#𝓪𝓯_𝓶)

Senin, 21 Agustus 2017

Rambut dan Kuku Hewan Kurban atau Si Pengurban?

Standard



Hadits tentang larangan memotong rambut dan kaku sejak tanggal 1 Dzulhijjah biasanya menjadi polemik di medsos, karena di dalam matan hadits-hadits tersebut tidak dinyatakan secara jelas, yang dimaksud itu pengurbannya atau hewan kurbannya. Maka sangat berpotensi menimbulkan perbedaan dalam pemahaman.

Sebenarnya selama masing-masing tidak mengklaim pendapatnya yang paling benar, dan yang lain dianggapnya salah, tidak jadi masalah. Namun yang terjadi tidaklah demikian. Misalnya pernah kita dengar dari orang yang berpendapat bahwa larangan tersebut bagi pengurbannya, lalu dia mengatakan:

“kok sempat-sempatnya sih memotong kuku dan rambut/ bulu hewan kurban?" dengan nada sinis.

Maksudnya dia menyalahkan orang yang berpendapat bahwa larangan itu untuk hewan kurbannya. Dia mungkin lupa atau tidak tahu, kalau pernah diberitakan di TV Nasional, ada pedagang besar yang melayani hewan kurban baik sapi maupun kambing dalam jumlah besar.

Hewan-hewan itu dirawatnya dengan baik agar dapat laku dengan harga yang mahal, sehingga untungnya pun juga besar. Bentuk perawatannya misalnya, selalu dijaga kebersihannya, disikat dan dipotong bulu-bulunya agar nampak lebih bagus, dan dipotong kuku-kukunya agar lebih indah dan sehat. Atau mirip-mirip Salon Hewan. Dan ternyata ada orang-orang yang sengaja memotong rambut/ bulu dan kuku hewan kurban.

Mari kita simak bunyi hadits-hadits tentang larangan memotong rambut dan kuku tersebut.

Hadits pertama :

سَمِعْت أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أُهِلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ - رواه مسلم

Aku mendengar Ummu Salamah istri Nabi Saw. berkata: Rasulullah Saw bersabda: "Barangsiapa yang memiliki sembelihan yang akan dia sembelih, maka apabila hilal Dzulhijjah telah muncul, hendaklah ia tidak mengambil dari rambutnya dan kuku-kukunya sedikitpun hingga menyembelih kurban" (HR Muslim)

Hadits kedua :

عن أُمِّ سَلَمَةَ تَرْفَعُهُ قَالَ: إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ وَعِنْدَهُ أُضْحِيَّةٌ يُرِيدُ أَنْ يُضَحِّىَ فَلاَ يَأْخُذَنَّ شَعْرًا وَلاَ يَقْلِمَنَّ ظُفُرًا - رواه مسلم

Dari Ummu Salamah yang (sanadnya) ia sambungkan (ke Rasulullah). Beliau bersabda: "Apabila 10 hari (Dzulhijjah) telah masuk dan seseorang memiliki hewan kurban yang akan ia sembelih, maka hendaklah ia tidak mengambil rambut dan tidak memotong kuku" (HR Muslim)

Dari kedua hadits tersebut, memang cenderung menimbulkan multitafsir, karena tidak menunjukkan ke hewan kurbannya atau pengurbannya.

فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا

hendaklah ia tidak mengambil dari rambutnya dan kuku-kukunya sedikitpun

فَلاَ يَأْخُذَنَّ شَعْرًا وَلاَ يَقْلِمَنَّ ظُفُرًا

hendaklah ia tidak mengambil rambut dan tidak memotong kuku

Hadits ketiga :

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا (رواه مسلم(

Dari Ummu Salamah bahwasanya Nabi Saw bersabda: "Apabila telah masuk sepuluh hari (Dzulhijjah) dan salah seorang di antara kalian hendak berkurban, hendaklah ia tidak menyentuh rambut dan kulitnya sedikitpun" (HR Muslim)

Dari hadits tersebut, sebenarnya lebih menunjukkan ke hewan kurbannya daripada ke pengurbannya.

فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا

hendaklah ia tidak menyentuh rambut dan kulitnya sedikitpun

Hadits keempat:

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ؛ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ هِلاَلَ ذِي الْحِجَّةِ، فَأَرَادَ أَنْ يُضَحِّيَ، فَلاَ يَقْرَبَنَّ لَهُ شَعَراً وَلاَ ظُفْراً

"Barangsiapa di antara kalian mendapati awal bulan Dzulhijjah, lalu ia ingin berkurban, maka janganlah ia mendekati (sengaja menyisihkan) rambut dan kukunya."

Dari hadits tersebut, juga cenderung menimbulkan multitafsir, karena tidak menunjukkan ke hewan kurbannya atau pengurbannya.

فَلاَ يَقْرَبَنَّ لَهُ شَعَراً وَلاَ ظُفْراً

janganlah ia mendekati (sengaja menyisihkan) rambut dan kukunya

Ada lagi hadits dari Aisyah :

أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُهْدِى مِنَ الْمَدِيَنةِ. فَأَفْتِلُ قَلاَئِدَ هَدْيِهِ. ثُمَّ لاَ يَجْتَنِبُ شَيْئاً مِمَّا يَجْتَنِبُ الْمُحْرِمُ

"Rasulullah membawa hewan kurban dari Madinah, lalu beliau menganyam gantungan hewan kurbannya. Beliau tidak menjauhi sesuatu dari hal-hal yang harus dijauhi oleh orang yang berihram.”

Dari hadits Aisyah tersebut, sebenarnya lebih menunjukkan ke hewan kurbannya daripada ke pengurbannya. Karena Rasulullah jelas-jelas tidak menjauhi hal-hal yang harus dijauhi oleh orang yang sedang ihram. Seperti kita maklumi, hal-hal yang harus dijauhi oleh orang-orang yang ihram, antara lain: memotong kuku, memotong rambut, menikah, berkumpul suami-istri, dan lain-lain.

Akhirnya kembali kepada kita masing-masing, mau meyakini yang mana, apakah lebih condong ke hewan kurbannya atau ke pengurbannya. Yang penting tidak saling menyalahkan yang lain.

Dan Allah telah mengingatkan kepada kita, bahwa Allah sekali-kali tidak melihat fisik kurban kita, tetapi ketakwaan kitalah yang dilihat, dan yang akan mencapai keridhaan Allah.

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

"Daging-daging kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya." (QS. Al Hajj: 37)

Selasa, 13 Juni 2017

Memilih Sahabat

Standard

"Mana yang lebih anda sukai, saudara atau sahabat anda?".‎

Sebagian pasti ada yang menjawab saudaranya lebih disukai. Sebagian lagi menjawab, "Kadang-kadang dengan sahabat, kita lebih bisa curhat”.‎

Jawaban yang kedua yang ingin saya bahas dalam Kultum kali ini.‎

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, sahabat bisa berarti "teman", sedangkan sahabat akrab adalah "orang yang begitu dekat kepada kita sampai pada tingkat boleh mengetahui rahasia pribadi."‎

Ada beberapa tingkatan sahabat.

Tingkatan pertama adalah "SHOHIB" yang dalam bahasa Indonesia menjadi “sahabat”. Shohib tidak harus selalu seide dengan kita.

Tingkat yang lebih tinggi adalah "SHODIQ", yang berasal dari kata “shidq” yang artinya "benar” atau “jujur”. Sahabat yang baik adalah mereka yang berkata jujur dan sikapnya akan selalu benar pada kita.

Ada tingkat yang lebih tinggi lagi yaitu "KHOLIL", yang berasal dari akar kata bermakna “celah”. Maksudnya adalah sahabat yang begitu dekat dengan kita.

Pertemanannya, persahabatannya, dan kasih sayangnya, masuk ke celah-celah kalbu. Dengan kata lain perasaan diantara keduanya sudah sehati, ketika salah satunya sakit, yang lain akan ikut merasakan sakit.

Kholil ibarat melihat diri kita saat bercermin. Contoh Kholil dalam sejarah Islam dapat dijumpai pada dua sahabat Rasul: Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar bin Khatthab.

Suatu hari ada orang berkata, “Saya tidak tahu siapa khalifah, siapa kepala negara, apakah engkau wahai Abu Bakar atau Umar?”.

Abu Bakar menjawab, “Saya, tetapi dia”.‎

Selain Shodiq, Shohib, dan Kholil, ada lagi "BITHONAH", yaitu ‎teman terdekat atau orang kepercayaan yang kita beritahu rahasia kita. Bithonah bersinonim dengan kata "Waliy", yaitu orang yang mendekat.

Allah SWT berfirman, "orang yang beriman itu waliy-nya adalah Allah, Rasul, dan orang-orang beriman."‎

Al-Qur`an mengajarkan kita untuk mencari sahabat yang terus menerus bersama kita dan memberi manfaat sampai di hari kemudian. Di dalam surat Az-Zukhruf/43 ayat 67, Allah SWT berfirman:

‎ٱلْأَخِلَّآءُ يَوْمَئِذٍۭ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلْمُتَّقِينَ
‏‎‏
‎Menurut ayat ini, semua sahabat pada hari kemudian akan bermusuhan kecuali sahabat yang dijalin berdasarkan ketakwaan kepada Allah.

Ada beberapa kriteria orang yang layak dijadikan sahabat.

Pertama, lihat terlebih dahulu apakah dia baik kepada keluarga dan orang tuanya. Jika ia durhaka jangan jadikan ia sahabat.‎

Kedua, lihat bagaimana sikapnya terhadap materi.

Ketiga, lihat bagaimana aktivitasnya sehari-hari.‎

Keempat, lihat bagaimana reaksinya jika anda salah. Apakah ia menasehati anda? Jika tidak, ia tak bisa menjadi sahabat.‎

Kelima, lihat keakrabannya dengan anda. Persahabatan itu harus seimbang, tidak boleh ada yang merasa lebih tinggi atau lebih baik.‎

Bagian akhir pada ayat terakhir dari surat Al 'Ashr adalah:

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Saya menjabarkannya: "Mereka saling mendorong, saling melarang, saling mengingatkan, saling menasehati, saling menyarankan satu sama lain, dan setara dalam saling menasehati itu".‎

Kata "Tawaashaa" berarti setara dalam menasehati. Berbeda dengan kata "Shaawuu", yang berarti salah satunya mendominasi yang lain.‎

Kata "Tawaashaa" berarti berdiri sejajar. "Aku tak lebih baik darimu dan kamu pun tak lebih baik dariku, dan kita saling menasehati".‎

Teman yang baik adalah ia yang menegur kita:

"Bro, kemarin aku ga lihat kamu sholat Isya dan Tarawih di masjid. Kamu kemana? Kamu gak apa-apa kan?".‎

"Aku ga lihat kamu beberapa hari ini, kamu kemana? Aku mengkhawatirkanmu".‎

Itulah "Tawaashaw bil-haqq", saling mengingatkan tujuan kita di dunia ini. Bagaimana seharusnya kita dapat hidup dengan baik tanpa melupakan tujuan hidup di dunia.‎

Semoga kita semua mendapat teman yang baik. Semoga Allah SWT membantu kita melawan godaan yang datang dan menjadikan kita manusia yang lebih baik. Dan semoga pada akhirnya, kita juga bisa membuat orang lain menjadi dekat dengan Allah karena kita.

Itulah yang semestinya dilakukan, menjadi orang yang saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, bukan dengan cara menambah musuh.

Memperbanyak Doa‎

Standard



Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, "Ada tiga (kelompok) orang yang sekali-kali tidak akan ditolak doanya oleh Allah SWT. Pertama, orang yang sedang berpuasa. Kedua, Kepala Negara yang adil. Dan Ketiga, orang yang teraniaya." (HR. Tirmidzi)

Hadits ini menunjukkan keistimewaan berdoa pada bulan suci Ramadhan.

Kata DOA sering disebut dalam al-Qur`an dengan makna yang beraneka ragam. Doa, misalnya, bisa berarti istighatsah (memohon bantuan dan pertolongan), permintaan, percakapan, memanggil dan memuji.‎

Lebih tegas Nabi SAW menjelaskan, "Doa itu ruhnya ibadah, inti dari ibadah”.‎ (HR. Tirmidzi)

Pada surat al-Baqarah ayat ke-186, setelah dijelaskan tentang kewajiban puasa dan merayakan Ramadhan dengan membaca al-Qur`an, Allah SWT mengundang hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya.

‎"Dan ketika ada hamba-Ku yang bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku akan mengabulkan permohonan hamba-Ku ketika ia bermohon kepada-Ku. Maka hendaklah ia berusaha mematuhi segala perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka mendapatkan petunjuk kebenaran".‎

Inilah janji Allah yang akan mengabulkan doa hamba-Nya yang benar-benar bermohon kepada-Nya. Disini ada syarat agar doa dikabulkan, yaitu:

1. Falyastajiibuu-lii, hendaknya berusaha untuk melaksanakan perintah Allah dan berusaha pula menjauhi larangan-Nya.

2. Walyu`minuu-bii, hendaklah yakin bahwa Allah akan mengabulkan doa dengan cara dan dalam bentuk yang terbaik.

Karena belum tentu apa yang kita anggap baik, baik pula menurut Allah, dan sebaliknya, apa yang kita tidak sukai, belum tentu tidak baik untuk kita. Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

Syeikh Abdul Qadir Jailani pernah menulis, "‎Jangan salahkan Allah SWT bila doa tak dikabulkan, dan jangan menggerutu atau jemu.‎

Jika anda memohon tibanya cahaya siang pada saat kian melekatnya kegelapan malam, maka penantian anda akan lama, karena ketika itu kepekatan akan meningkat hingga terbitnya fajar.‎

Tetapi yakinlah bahwa fajar pasti menyingsing, baik anda kehendaki atau tidak. Jika anda menghendaki kembalinya malam pada saat itu, maks doa anda tidak akan dikabulkan, karena anda meminta sesuatu yang tak layak, dan anda akan dibiarkannya meratap, lunglai, jemu dan enggan.‎

Tetapi, anda salah bila jemu berdoa, karena "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan". (QS. 94: 5-6)

Itu terjemahan ayatnya, tafsirannya adalah: "Sesaat setelah datangnya satu kesulitan pasti akan disusul oleh dua kemudahan".‎

Karena itu, tetaplah yakin bahwa "dalam genggaman tangan-Nya terdapat segala kebajikan".‎

Bila apa yang dimohonkan tak diperoleh dengan segera, anda tak akan rugi. Seorang ulama yang bernama Yazid ar-Roqrosyi bercerita:

Di akhirat nanti, ada seorang hamba yang terheran-heran melihat ganjaran pahala yang ia dapat, yang ia sendiri merasa tidak pernah melakukannya sewaktu hidup di dunia. Saat itu ada suara yang mengatakan: "Itulah ganjaran atas doa-doamu yang belum dikabulkan sewaktu di dunia".

Beliau melanjutkan:
"Andaisaja manusia tahu bahwa ganjaran doanya lebih besar di akhirat, maka niscaya mereka akan berharap semua doa-doanya dikabulkan di akhirat saja.

Tujuan puasa adalah agar kita menjadi pribadi yang lebih bertakwa (la'allakum tattaquun).‎

Tujuan adanya Ramadhan setiap tahun agar kita menjadi pribadi yang lebih bersyukur (la'allakum tasykuruun).

‎Dan tujuan dari Doa adalah agar kita senantiasa mendapatkan petunjuk dan bimbingan dalam kebenaran (la'allahum yarsyuduun)‎

Jadi, jangan putus asa dalam berdoa, sebab Allah SWT berjanji akan mengabulkan doa dan permohonan hamba-Nya, selama hamba-Nya berdoa dengan sungguh-sungguh.
  
"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu" (QS. 40: 60)

Bermegah-megahan Telah Melalaikanmu

Standard



Di dalam surat at-Takaatsur (surat ke-102), Allah SWT berfirman: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu”.‎

Di ayat ini Allah SWT menggunakan kata "AlHaa" yang dalam bahasa Arab berbentuk masa lampau (past tense). Kata "AlHaa" berasal dari kata "LaHwun" (لهو) yang secara harfiah berarti "Hiburan".

Misalnya dalam ayat:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan hiburan semata” (QS. Al-Hadiid: 20)

Arti lain dari kata "Lahwun" adalah sesuatu yang membuat kita sibuk dan mengalihkan kita dari sesuatu yang seharusnya kita lakukan. Dan itulah sebenarnya esensi dari "Hiburan".

Hiburan itu esensinya dalah membuang waktu, yang seharusnya digunakan untuk sesuatu yang produktif, tapi malah dihabiskan untuk menghibur diri.‎

Ketika berubah menjadi kata "ilHaa", maka artinya mengalihkan atau melalaikan, sehingga menjauh dari suatu yang penting kepada sesuatu yang kurang penting.

Maka ada ayat:

“Wahai orang-orang yang beriman, jangan biarkan harta dan anak-anakmu melalaikanmu (menjauhkanmu/mengalihkanmu) dari mengingat Allah” (QS. Al-Munafiqun: 9)

Harusnya, uang dan anak-anak membuat kita lebih mengingat Allah, dan bukan sebaliknya.

Biasanya, ketika kita mendapatkan banyak kemewahan dunia, rumah yang nyaman, kendaraan, baju yang bagus, dan lain-lain, kita mengucap "Alhamdulillah". Itu baik dan memang sudah seharusnya. Tapi harusnya kita juga berkata: "Astaghfirullah, nanti aku juga akan ditanya tentang nikmat-nikmat ini!".

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” (QS. At-Takaatsur/102: 8)

Semakin banyak yang kita punya, semakin banyak kita akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban. Semakin sedikit, tentu akan semakin sedikit pula yang akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban.

Tidak salah punya banyak harta, punya kelebihan nikmat, tapi juga sebaliknya, harus juga siap ditanya dan siap menjawab.

Ada anggapan, bahwa "semakin banyak kemewahan dunia yang kita miliki, itu artinya Allah semakin mencintai kita". Padahal, dunia ini bukan tanda bahwa Allah mencintai kita atau membenci kita. Dunia hanya cobaan, baik untuk yang kaya maupun yang miskin.

Banyak cerita orang yang kaya raya tapi berakhir buruk, Fir’aun misalnya.

Menjadi kaya bukan sesuatu yang buruk, tapi bukan juga sesuatu yang baik, karena ia merupakan cobaan yang berupa nikmat. Dan setiap nikmat yang kita miliki kelak akan dimintai pertanggung-jawabannya.

Semua nikmat yang kita nikmati, mata yang dapat melihat, mulut yang dapat berkata-kata, telinga yang dapat mendengar, kita tidak perlu sebuah aplikasi untuk menggunakannya, kendaraan yang kita gunakan, rumah yang kita tidur di dalamnya, semua itu "Tsumma latus`alunna yawma`idzin ‘anin-na’iim".‎

Asy-Syaukani memberi definisi tentang "Na’iim", yaitu “Alladzii alhaakum ‘anil a’maalil-aakhirah”, yaitu segala nikmat yang membuat kita lalal untuk urusan akhirat.

Jika kita selalu ingat bahwa semua nikmat akan dimintai pertanggungjawaban, maka kita tidak akan membiarkan nikmat-nikmat itu melalaikan kita, justru membuat kita tetap di jalan-Nya.

Nikmat dari Allah menjadi jalan untuk mengingat-Nya dan bersyukur kepada-Nya, karena semua nikmat tersebut bukan milik kita, tapi milik Allah, yang pada akhirnya akan dikembalikan kepada-Nya.

Satu nikmat besar yang kita dapati sekarang ini adalah Allah SWT memberi kita umur panjang sehingga dapat berjumpa dengan Ramadhan. Dan yang tidak kalah besar adalah nikmat bahwa nabi Muhammad SAW adalah nabi kita, dan al-Qur`an sebagai kitab suci kita.

Kesibukan dunia seringkali membuat kita melupakan kedua nikmat ini. Sudah seberapa jauh kita dilalaikan untuk meneladani Rasul dan memahami al-Qur`an?

Semoga kita dapat menggunakan nikmat-nikmat itu dengan sebaik-baiknya. Aamiin.

Riya`

Standard

Setan tidak henti-hentinya memalingkan dan menjauhkan manusia dari keikhlasan. Salah satunya adalah melalui pintu Riya` yang banyak tidak disadari oleh manusia.

Riya` adalah seseorang melakukan suatu amalan agar orang lain bisa melihatnya kemudian memuji dirinya.

Termasuk dalam definisi Riya` adalah Sum’ah, yaitu melakukan suatu amalan agar orang lain mendengar apa yang dilakukan, sehingga pujian dan ketenaran pun datang.

Para sahabat adalah generasi terbaik. Keteguhan iman mereka sudah teruji, pengorbanan mereka terhadap Islam sudah tidak perlu diragukan lagi. Namun demikian, Rasulullah SAW masih mengkhawatirkan Riya` menimpa mereka.

Beliau bersabda:

“Sesuatu yang aku khawatirkan menimpa kalian adalah perbuatan syirik ashghar". Ketika beliau ditanya tentang maksudnya, beliau menjawab: Riya`" (HR. Ahmad)

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda:

"Maukah kuberitahukan kepadamu tentang sesuatu yang menurutku lebih aku khawatirkan terhadap kalian daripada (fitnah) Almasih Ad-Dajjal?".

Para sahabat berkata, “Tentu, ya Rasulullah”.

Beliau bersabda: “Syirik khafi (yang tersembunyi), yaitu ketika seseorang berdiri mengerjakan shalat, dia perbagus shalatnya karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya". (HR. Ahmad)

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Riya` termasuk syirik khafi yang samar dan tersembunyi. Hal ini karena Riya` terkait dengan niat yang merupakan amalan hati yang hanya diketahui oleh Allah SWT. Tidak ada yang mengetahui niat dan maksud seseorang kecuali Allah semata.

Cobalah renungkan setiap amalan kita, sudahkah terbebas dari maksud duniawi?

Sudahkah semuanya murni ikhlas karena Allah SWT?

Jangan sampai ibadah yang dilakukan siang dan malam menjadi sia-sia.

Jangan sampai uang yang cukup banyak dikeluarkan menjadi sia-sia.

Ada sebuah kisah yang bisa dijadikan ilustrasi...

Seorang kaya raya suatu kali mampir di sebuah masjid untuk sholat Ashar. Masjid tersebut cukup besar tapi belum rampung, masih dalam proses pembangunan.

Setelah sholat, ia menghubungi panitia dan bertanya: "Butuh dana berapa lagi untuk menyelesaikan masjid ini?".

Panitia menjawab: "Masih butuh sekitar 300 juta pak!".

"Baik..", kata si orang kaya, "Besok saya transfer 300 juta, tolong digunakan untuk menyelesaikan masjid ini".

Panitia pun gembira karena tanpa diduga ada seorang dermawan yang menyumbang ke masjid tersebut.

Singkat cerita, selesailah masjid tersebut dengan megah dan indah.

Dua tahun kemudian, tanpa sengaja, si orang kaya tadi mampir lagi ke masjid itu untuk sholat Ashar. Kali ini bersama supirnya.

Selesai sholat, supirnya berkata: "Wah.. megah sekali masjid ini ya pak.. indah sekali... Nyaman! Masya Allah.."

Tuannya berkata: "Iya.. masjid ini memang megah, masjid ini memang indah. Tapi, kalau dua tahun lalu saya tidak sumbang 300 juta, masjid ini mungkin belum selesai sampai saat ini. Untung, dua tahun lalu saya sumbang 300 juta, sehingga masjid ini sekarang menjadi megah dan indah".

Apa yang terjadi?

Malaikat yang sedang mengawasinya menghapus dan mencoret pahala amal kebaikan yang dilakukannya dua tahun lalu. Nol di sisi Allah!

Kenapa?!
Karena ada unsur Riya` di dalam hatinya.

Riya` menghapus pahala amal kebaikan yang dilakukan seseorang, Nol di sisi Allah. Yang didapat hanya cape. Karena sy‎arat utama suatu amal diterima oleh Allah, selain ibadah tersebut sesuai dengan tuntunan syari'at, adalah ikhlas. Tanpanya, amalan seseorang akan sia-sia belaka.

Ikhlas memang satu amalan yang berat. Urusan niat dalam hati bukanlah hal yang mudah. Tidaklah salah jika Sufyan ats-Tsauri berkata:

"Tidaklah aku berusaha untuk membenahi sesuatu yang lebih berat daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak balik".

Ibnu Qayyim al-Jauzi juga pernah berkata:

"Amal ibadah yang dilakukan dengan Riya`, bukan ikhlas karena Allah, bagaikan seorang musafir yang berjalan di padang pasir dalam terik matahari yang panas, tapi bekal yang dibawa olehnya adalah sekarung pasir, memberatkannya tapi tidak bermanfaat bagi dirinya".

Mari luruskan niat, jangan sampai terbersit rasa Riya` di hati saat melakukan suatu ibadah. Amal ibadah apapun, cukup menjadi rahasia antara kita dan Allah. Tidak perlu orang lain tahu, karena hal tersebut sangat mungkin memunculkan rasa Riya` di hati.‎

Hiduplah Seperti Seorang Musafir

Standard


Pernah menjadi seorang musafir? Kemungkinan besar kita semua pernah menjadi musafir. Singkatnya, musafir itu orang yang menempuh suatu perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain.

Ketika kita berniat melakukan safar (perjalanan) menunaikan ibadah umrah misalnya, tentunya kita sudah mengetahui tempat tujuannya. Sebelum berangkat pun, pasti kita sudah menyiapkan segala sesuatunya. Selain utamanya kesiapan ruhiyah, hal yang cukup penting tentunya memilih travel yang terpercaya.

Kita berani membayar mahal untuk memastikan agar segalanya lancar. Mulai dari yang berhubungan dengan pelaksanaan ibadah, transportasi, akomodasi hingga konsumsi, agar berjalan dan tersedia dengan baik.

Hal berikutnya tentu perbekalan yang cukup. Bekal yang cukup ini sangat penting, mengingat jika kita kekurangan bekal, sengsara sudah di depan mata.

Bagi seorang musafir, tentu dia tidak akan menjadikan perjalanannya sebagai tujuan. Senyaman dan seindah apapun perjalanan, bagi seorang musafir perjalanan tetaplah perjalanan, tak ada orang yang betah selamanya di dalam perjalanan hingga lupa tujuan.

Pernah lihat musafir bawa kulkas selama perjalanan? Bawa lemari atau mesin cuci selama perjalanan? Pasti belum pernah kan? Musafir itu paling juga bawa ransel atau kantong yang cukup, hanya membawa kebutuhan selama perjalanan, itu saja, tidak lebih!‎

Bagi orang yang melakukan perjalanan umrah, waktu perjalanan hanya sekitar 9-10 hari. Sehingga yang diperlukan cukup menyewa hotel saja, tak perlu hingga membeli rumah atau apartemen.

Dalam kehidupan nyata saat ini, ternyata banyak orang yang lupa. Mereka menganggap dunia ini adalah tujuan akhir, atau kehidupan yang sesungguhnya. Sehingga mereka rela melakukan apapun untuk mendapatkannya, menumpuk harta kekayaan sebanyak-banyaknya, bukan untuk menggapai akhirat, tetapi mencari dunia untuk kesenangan dunia.

Bukan berarti bahwa kita tidak boleh mencari banyak harta, justru harus!! Tapi jangan sampai energi, perhatian dan harta kekayaan tersebut lebih banyak dihabiskan untuk kesenangan dunia, karena itu ibarat seorang musafir yang lebih memikirkan kesenangan di perjalanan tanpa memikirkan dan menyiapkan bekal di tempat tujuan atau ongkos untuk tempat kembalinya.

Hartanya habis di perjalanan, tak menyisakan untuk bekal di tempat tujuan dan tempat asalnya. Padahal kehidupan sesungguhnya adalah tempat tujuan dan tempat dia berasal.

Orang yang memahami bahwa dunia hanyalah sebuah perjalanan, bahkan hanya tempat transit sementara, tentu yang dia fokuskan adalah penyiapan bekal di tempat tujuan dan tempat dia berasal.

Dia bekerja, berusaha dan mengumpulkan harta bukan untuk kesenangan dunia semata, tetapi untuk sebuah kepentingan dimana semua manusia akan dikembalikan, yaitu kampung akhirat.

Orang yang seperti demikian, jika memiliki sejumlah harta, maka “jatah” untuk akhirat yang didahulukan dan diutamakan, bukan harta dari sisa belanja barang-barang mewahnya. Infaq, Sedekah dan Wakaf akan didahulukan dan diutamakan sebelum keperluan dunia lainnya.

Mari kita renungkan sabda Rasulullah SAW:

“Jadilah kamu di dunia seperti halnya orang asing atau orang yang sekedar numpang lewat/musafir”. (HR. Bukhari)

Apa yang kita cari dan usahakan hingga empot-empotan, pada akhirnya akan kita tinggalkan, kecuali yang kita transfer untuk akhirat.‎

Jadilah Pribadi Yang Tenang, Bijak dan Bersahaja

Standard






Seseorang tak akan pernah sampai pada hakikat iman sampai dia meninggalkan kebiasaan berdebat meski dia benar.

Pada dasarnya, keharusan kita adalah mempercayai sesuatu yang kita baca atau dengar jika itu benar, dan terlebih dahulu diam jika mendengar sesuatu yang salah, menyimaknya baik-baik, sebelum meluruskannya dengan diskusi yang santun.

Inti dari poin ini adalah kita tidak meneruskan suatu perdebatan meski kita benar. Sebab debat, terlebih yang sengit, maka nafsulah yang bermain di dalamnya, dan tanda terbesar dari itu adalah amarah yang menguasai serta usaha untuk menjatuhkan lawan bicara.

Orang yang mempunyai pemikiran besar selalu menyibukkan diri dan menghabiskan waktu untuk membicarakan ide dan target.

Sedang orang yang berpikiran sederhana biasa-biasa saja menghabiskan waktu membicarakan orang.

Adapun orang yang berpikiran kecil menyibukkan dirinya dengan membicarakan hal yang remeh temeh.

Belajarlah untuk menerima keadaan yang sulit kita ubah, dan konsentrasikan diri terhadap sesuatu sehingga kita dapat memberikan pengaruh positif dalam hal itu.

Misalnya membicarakan politik Amerika, itu tidak banyak manfaat bagi kita. Atau berdebat soal perkara-perkara furu'iyah dalam agama, itu juga tidak banyak manfaat bagi kita. Hanya semakin membuktikan betapa bodohnya kita, betapa tidak luasnya wawasan kita, seperti katak dalam tempurung atau bagai orang yang terlambat lahir.

Dua hal yang banyak membuat kita menjadi lebih bijak dalam menyikapi hidup adalah banyak membaca, menjadikan jiwa kita berjiwa Iqro' dan mengambil pelajaran kehidupan dari siapapun yang kita temui.

Gunakan kesempatan berpikir untuk menentukan reaksi kita. Jadikan keputusan kita berdasarkan keluasan ilmu, bukan berdasarkan ego, emosi, terlebih nafsu.

Bersama Ramadhan, semoga kita semua menjadi manusia yang memiliki pribadi yang tenang, bijak dan bersahaja.

Senin, 20 Juni 2016

KULTUM Hari-5 :: SABAR ::

Standard


KULTUM Hari-5

:: SABAR :: 


Di dalam Al-Qur’an, banyak sekali ayat-ayat yang memerintahkan kita tentang kesabaran dan juga tentang keutamaan-keutamaan yang didapatkan oleh orang-orang yang sabar, diantaranya Allah menyelaraskan kata “sabar” dan “shalat” secara bergandengan dalam salah satu ayat: 

"Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar". (QS. al-Baqarah/2: 153). 

Bermacam-macam penafsiran para ahli tafsir atas penggandengan dua kata diatas, diantaranya yaitu: kedua hal tersebut adalah wajib dilaksanakan oleh setiap muslim jika dia ingin mendekatkan diri kepada Allah.

Sikap inilah yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW selama beliau menyebarkan ajaran Islam. Bermacam-macam cobaan yang diterimanya, cacian, makian dan bahkan perlakuan yang kasar dalam bentuk fisik dan beberapa kali nyaris membahayakan nyawa beliau, tetapi cobaan tersebut tak pernah menyurutkan perjuangannya dan tentunya berkat kesabaran beliau. Andaisaja beliau tidak sabar, ngambek dan tidak meneruskan ajaran ini, maka kita tidak tahu apa jadinya dengan aqidah kita sekarang.

Memang berlaku sabar itu tidaklah mudah, dan bahkan sebaliknya ketidak-sabaran sangatlah gampang disulut, apalagi dengan adanya propaganda syetan untuk menyulut kemarahan seseorang. Tidak berlebihanlah jika Rasulullah SAW pada suatu ketika menyatakan bahwa jika kita ingin melihat syetan, maka lihatlah ketika seseorang sedang marah.

Ada beberapa kiat-kiat untuk menjaga kesabaran kita, diantaranya membiasakan berdzikir, berusaha untuk selalu dalam keadaan berwudhu, serta bergaullah dengan orang-orang yang alim dan sabar, sehingga terjalin suatu hubungan yang dinyatakan dalam Surat al-‘Ashr yaitu saling menasehati akan kebenaran dan kesabaran.

Pernah suatu ketika, Rasulullah SAW sedang berbincang-bincang dengan Abu Bakar. Tiba-tiba datanglah seorang Arab Badui dan serta merta menghina Abu Bakar. Namun, Abu Bakar dengan sabar tidak melayani hinaan Arab Badui tersebut. Dan Nabi SAW pun tersenyum melihat sikap Abu Bakar.

Merasa tidak dihiraukan, Arab Badui tadi kembali menghina Abu Bakar dengan hinaan yang lebih pedas dari sebelumnya. Namun, sekali lagi, dengan sabar Abu Bakar tidak menghiraukannya. Dan Nabi SAW pun kembali tersenyum melihat sikap Abu Bakar tersebut.

Dengan rasa kesal, si Arab Badui kembali menghina Abu Bakar, kali ini dengan perkataan yang tidak enak didengar, bahkan menyebut-nyebut nama bapak dan keluarga Abu Bakar. Sebagai manusia biasa, akhirnya Abu Bakar tidak tahan mendengar hinaan si Arab Badui. Dan membalas hinaannya itu. Pada saat itu pula Nabi SAW meninggalkan Abu Bakar tanpa pamit dan mengucapkan salam.

Melihat Nabi SAW meninggalkannya, Abu Bakar pun menyusul Nabi dan bertanya, mengapa meninggalkannya. Nabi pun menjawab: 

“Pada saat si Arab Badui menghinamu dan engkau tidak menghiraukannya, turunlah para malaikat yang siap melindungimu, maka aku pun tersenyum melihat hal itu.

Pada hinaan kedua dan engkau tidak menghiraukannya, makin banyak malaikat yang turun mengelilingimu dan siap melindungimu. Maka aku pun tersenyum melihat hal itu. 

Akan tetapi, ketika engkau melayani dan membalas hinaan si Arab Badui pada kali ketiga, para malaikat pergi meninggalkanmu, dan datanglah iblis dan pasukannya mengelilingimu. Maka aku pun pergi karena tidak mau berdekatan dengannya apalagi mengucapkan salam kepadanya".

Saudara-saudaraku sekalian...
.
Bisa saja kejadian diatas terjadi pada diri kita, terutama pada saat kita berpuasa, dengan kasus yang berbeda. Situasi macet di jalan kota-kota besar seringkali menguji kesabaran kita. Situasi pasar yang penuh sesak oleh orang, mudah sekali memancing amarah kita. Prilaku istri, suami dan anak kadang juga menguji kesabaran kita. Semua membutuhkan kesabaran! 

Allah SWT memberikan balasan dan pahala yang besar atas kesabaran, diantaranya:

 Mendapatkan pertolongan Allah, sebagaimana firman-Nya: “Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. al-Baqarah/2: 249)

 Mendapatkan shalawat, rahmat dan petunjuk Allah, sebagaimana firman-Nya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun’. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. al-Baqarah/2: 155-157)

 Sabar adalah kunci kesuksesan seorang hamba, sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”. (QS. Ali ‘Imran/3: 200).

Sebagai seorang yang beriman, kita harus yakin dan percaya akan mendapatkan solusi dan kemudahan, sebab Allah SWT telah menjadikan dua kemudahan dalam satu kesulitan sebagai rahmat dari-Nya. Inilah yang difirmankan Allah SWT: 

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS. al-Insyirah/94: 5-6)

Tafsirannya: "Sesaat setelah datangnya satu kesulitan, akan disusul oleh dua kemudahan".

Al-Qurtubi menafsirkan: "Tidak mungkin satu kesulitan mengalahkan dua kemudahan".

Sabar memang sulit. Ibarat minum jamu yang sangat pahit, rasanya gak karuan, mau muntah rasanya, sudah minum air putih, bahkan air teh tambah gula, tapi masih tetap pahit, lama sekali hilangnya.

Andaisaja bukan karena demi kesehatan (kebaikan) diri saat ini dan yang akan datang, maka pasti seseorang tidak akan mau minum jamu pahit itu.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga keimanan dan kesabaran kita, hingga kita selalu bersama-Nya, dan dengan itu tentunya akan dilimpahkan keberkatan dan lindungan-Nya. Aamiin...

Wallaahu a'lam...
____________
::
‪#‎af_m‬
Like ♡ Share
Twitter: @azharulfuad

KULTUM Hari-4 ::MENGUKUR KADAR SYUKUR KITA::

Standard


KULTUM Hari-4


::MENGUKUR KADAR SYUKUR KITA::


ALKISAH.. ada seseorang bermimpi bertemu dengan malaikat. Dalam mimpinya tersebut, orang tadi diajak oleh malaikat untuk melakukan perjalanan ke atas langit.

Singkat cerita, sampailah keduanya di tempat pertama. Tempat tersebut begitu besaaarr. Di dalamnya terdapat ribuan malaikat yang sedang sibuk bekerja. Terlihat, ribuan malaikat itu sedang memilah-milah / memisah-misah jutaan berkas seperti layaknya kantor pos.

Karena bingung, orang tersebut bertanya kepada malaikat yang membawanya: “Wahai malaikat… tempat apa ini? Dan apa yang sedang dilakukan oleh para malaikat di dalamnya?”

Malaikat menjawab: “Wahai manusia, tempat ini kami namakan dengan DEPARTEMEN PENERIMAAN PERMOHONAN".

“Maksudnya apa ya malaikat?”, tanya orang tadi.

Malaikatpun menjelaskan: 

“Wahai manusia, semua permohonan / doa yang dipanjatkan dan diminta oleh manusia yang hidup di dunia, untuk pertama kali akan sampai ke tempat ini. Tugas malaikat yang bekerja di dalamnya adalah memilah-milah dan memisah-misah permohonan tersebut berdasarkan kategorinya.

Ada manusia di dunia yang minta agar rezekinya dilancarkan, maka permohonan itu dikumpulkan berdasarkan kategori REZEKI. Ada manusia yang minta agar sakitnya disembuhkan, jodohnya dipercepat, agar cepat dapat keturunan, lulus ujian, dan lain-lain. Di tempat inilah semua permohonan itu dipisah-pisah dan dikumpulkan berdasarkan kategorinya masing-masing", malaikat menjelaskan.

Begitu ta’ajjub orang tersebut, dan tercengang, karena begitu banyak permohonan yang diminta oleh manusia yang hidup di dunia setiap harinya.

Kemudian, malaikat mengajak orang itu untuk melanjutkan perjalanan. Sampailah keduanya di tempat yang kedua. Tempat kedua ini pun begitu besar, tidak kalah besar dengan tempat pertama, dan di dalamnya terdapat ribuan malaikat yang juga sedang sibuk bekerja. Namun, jenis pekerjaan mereka berbeda dengan tempat pertama, yaitu para malaikat sedang mengepak-ngepak dan memaket-maket berkas-berkas yang jumlahnya jutaan, dan siap untuk dikirimkan.

Karena bingung, orang tersebut bertanya kepada malaikat yang membanya tadi: “Wahai malaikat… tempat apa ini? Dan apa yg sdg dilakukan oleh para malaikat di dalamnya?”.

Malaikat menjawab: “Wahai manusia, tempat ini kami namakan dengan DEPARTEMEN PENGEPAKAN DAN PENGIRIMAN".

“Maksudnya apa ya malaikat?”, tanya orang tadi.

Malaikatpun menjelaskan: “Wahai manusia, setelah semua permohonan / doa manusia diterima di tempat pertama, dan setelah permohonan itu dikabulkan oleh Allah, maka permohonan tersebut dikirim ke tempat ini, dan tugas malaikat di dalamnya adalah memaketkan permohanan itu dan mengirimkannya kepada manusia yang memintanya di dunia”.

Untuk kedua kalinya, orang tadi begitu ta’ajjub, tercengang, karena begitu banyak permohonan yang telah dikabulkan oleh Allah, dan siap untuk dikirimkan kepada manusia yang memintanya di dunia.

Kemudian, malaikat mengajak orang tersebut untuk melanjutkan perjalanan. Singkat cerita, sampailah keduanya di tempat yang ketiga. Tempat ketiga ini sangat berbeda dengan tempat pertama dan kedua. Tempat ketiga ini begitu kecil, sangat kecil, hanya seukuran 3x4 meter!! Dan anehnya, hanya ada satu malaikat yang bekerja di dalamnya.

Karena bingung, orang tadi bertanya: “Wahai malaikat… tempat apa ini? Mengapa bangunannya begitu kecil? Dan mengapa hanya satu malaikat yang bekerja di dalamnya?”

Malaikat menjawab: “Wahai manusia… tempat ini kami namakan dengan DEPARTEMEN PENERIMAAN UCAPAN TERIMA KASIH".

“Maksudnya apa wahai malaikat?”, tanya orang tersebut kebingungan.

Malaikat menjelaskan: “Wahai manusia… setelah manusia bermohon kepada Allah, berdoa kepada Allah, mengadu kepada Allah tentang kesulitan hidupnya, dan Allah telah mengabulkan permohonannya itu, maka, ucapan TERIMA KASIH yang disampaikan manusia kepada Allah akan sampai ke tempat ini!".

“Tapi… mengapa tempat ini begitu kecil? Dan mengapa yg bekerja di dalamnya hanya satu malaikat? Bahkan sekarang kita lihat malaikat itu sedang NGANGGUR??!”, tanya orang tesebut dengan rasa heran.

Sambil menghela nafas, malaikat menjelaskan: “Yaaah… begitulah wahai manusia… begitu banyak manusia bermohon kepada Allah, meminta kepada Allah agar doanya cepat dikabulkan, memohon agar permasalahan hidupnya diberikan jalan keluar, tapi setelah permohonannya itu dikabulkan, JARANG sekali dari mereka yg mengucapkan SYUKUR, mengucapkan TERIMA KASIH kepada Allah”.

Saudara-saudaraku sekalian…

Sadarkah kita bahwa kita sangat-sangat jarang mengucapkan syukur dan berterima kasih atas curahan nikmat yang Allah berikan kepada kita. Begitu banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita, bahkan untuk hal-hal yang tidak pernah kita minta, tapi dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya, Allah senantiasa memberikan nikmat tersebut kepada kita. 

Saya sangat yakin, sangat jarang (mungkin tidak pernah) diantara kita yang bermohon kepada Allah agar diberikan oksigen yang cukup sehingga kita dapat bernafas dengan bebas.

Atau… banyak diantara kita ketika berjalan dengan kaki kita, mengambil sesuatu dengan tangan kita, berbicara dengan lisan kita, melihat dengan kedua mata kita, mendengar dengan telinga kita, yang menyadari bahwa itu semua merupakan nikmat Allah yang diberikan kepada kita tanpa kita minta. Seakan-akan nikmat-nikmat itu kita anggap nikmat yang biasa.

 Tanyakan kepada tuna netra, bagaimana nikmat bisa melihat?!
 Tanyakan kepada tuna rungu, bagaimana nikmat bisa mendengar?!
 Tanyakan kepada penderita asma, bagaimana nikmat bisa bernafas dengan lega?!
 Tanyakan kepada orang yang kehilangan kaki / tangannya, bagaimana nikmat mempunyai keduanya?!

Tanyakan…. Tanyakan…!!

Maka wajarlah jika Allah SWT berfirman: "Wa qoliilan maa tasykuruun”, sungguh sedikit kalian bersyukur.

Pada akhir kisah, malaikat tersebut menjelaskan kepada orang tadi:

 “Jika engkau masih bisa bangun pagi, dan masih dapat melihat matahari bersinar, masih bisa melihat hidangan di meja makanmu, maka sungguh… engkau lebih beruntung dari 700 juta orang yang ada di dunia ini".
 “Jika engkau masih menyaksikan kedua orang tuamu masih hidup, masih bisa bercengkrama dengan suami/istri dan anak-anakmu, maka sungguh… engkau lebih beruntung dari 1 milyar orang yang ada di dunia ini".
 “Jika engkau masih bisa menghadiri sebuah masjid tanpa ada rasa takut: takut akan penindasan, pengusiran dan penyiksaan, maka sungguh… engkau lebih beruntung dari 300 juta orang yang ada di dunia ini”.

BAGAIMANA CARA BERSYUKUR KEPADA ALLAH?

Cara yang paling mudah adalah senantiasa mengucapkan “ALHAMDULILLAH”, Terima Kasih ya Allah.

● Jika kedua orang tuamu masih hidup, cara mensyukurinya adalah dengan berbakti kepada keduanya.
● Jika anak-anakmu masih hidup, cara mensyukurinya adalah dengan mendidik mereka menjadi anak-anak yang sholeh/sholehah.
● Jika engkau masih bisa menghadiri masjid tanpa ada rasa takut, cara mensyukurinya adalah dengan senantiasa sholat fardhu di masjid.

Imam Nawawi menjelaskan tentang hakikat syukur: 

“Mensyukuri nikmat Allah adalah bagaimana dengan nikmat tersebut, seorang hamba menggunakannya dalam rangka meningkatkan ibadah kepada Allah, dan bukan untuk maksiat kepada Allah".

Kaki kita, tangan kita, panca indera yang kita miliki, semua adalah nikmat dari Allah, sudah seberapa besar kita gunakan untuk mensyukuri nikmat Allah tersebut?

Subhanallah… sungguh benar firman Allah: “…. Wa qoliilan maa tasykuruun”, sungguh sedikit kalian bersyukur.

Panjang usia, sehingga kita dapat bertemu lagi dengan Ramadhan tahun ini, merupakan nikmat yang sangat luar biasa. Mari kita syukuri dengan cara mengisinya dengan banyak amal ibadah semaksimal mungkin.

“Jika engkau bersyukur, maka pasti akan Aku tambah nikmat itu untukmu. Tapi jika engkau kufur (tidak bersyukur), sungguh siksaKu amat pedih”.

Wallaahu a’lam…
____________
::
‪#‎af_m‬
Like ♡ Share
Twitter: @azharulfuad

KULTUM Hari-3 :: PENGHUNI SURGA ::

Standard


KULTUM Hari-3


:: PENGHUNI SURGA ::


Suatu ketika, Nabi Muhammad SAW duduk di masjid dan berbincang-bincang dengan para sahabatnya. Tiba-tiba beliau bersabda: 

“Sebentar lagi seorang penghuni surga akan masuk kemari”.

Semua matapun tertuju ke pintu masjid dan pikiran para hadirin membayangkan seorang yang luar biasa. “Penghuni surga… penghuni surga…”, demikian gumam mereka.

Beberapa saat kemudian, masuklah seseorang dengan air wudhu yang masih membasahi wajahnya dan dengan tangan menjinjing sepasang alas kaki. Apa gerangan keistimewaan orang itu sehingga mendapat jaminan surga? Tidak seorangpun yang berani bertanya walau seluruh hadirin merindukan jawabannya.

Keesokan harinya, peristiwa di atas terulang kembali. Ucapan Nabi dan “si penghuni” surga dengan keadaan yang sama semuanya terulang, bahkan pada hari ketiga pun terjadi hal yang demikian.

Seorang sahabat yang bernama Abdullah ibnu ‘Amr tidak tahan lagi, meskipun ia tidak berani bertanya dan khawatir jangan sampai ia mendapat jawaban yang tidak memuaskannya. Maka timbullah sesuatu dalam benaknya. Dia mendatangi si penghuni surga sambil berkata: 

“Saudaraku.. telah terjadi kesalahpahaman antara aku dan orang tuaku, dapatkah aku menumpang di rumahmu selama tiga hari?”

“Tentu, tentu…”, jawab si penghuni surga.

Rupanya, Abdullah bermaksud ingin melihat secara langsung “amalan” si penghuni surga.

Tiga hari tiga malam ia memperhatikan, mengamati bahkan mengintip si penghuni surga, tetapi tidak ada sesuatu pun yang istimewa. Tidak ada ibadah khusus yang dilakukan si penghuni surga. Tidak ada shalat malam, tidak pula puasa sunnah. Ia bahkan tidur dengan nyenyaknya hingga beberapa saat sebelum fajar. Memang sesekali ia terbangun dan ketika itu terdengar ia menyebut nama Allah di pembaringannya, tetapi sejenak saja dan tidurnya pun berlanjut.

Pada siang hari si penghuni surga bekerja dengan tekun. Ia ke pasar, sebagaimana halnya semua orang yang ke pasar. 

“Pasti ada sesuatu yang disembunyikan atau yang tak sempat kulihat. Aku harus berterus terang kepadanya”, demikian pikir Abdullah.

“Apakah yang engkau perbuat sehingga engkau mendapat jaminan surga dari Rasululllah?”, tanya Abdullah.

“Ya.. seperti yang engkau lihat itulah..”, jawab si penghuni surga.

Dengan kecewa Abdullah bermaksud kembali saja ke rumah. Tapi tiba-tiba tangannya dipegang oleh si penghuni surga seraya berkata:

“Apa yang engkau lihat itulah yang aku lakukan, ditambah sedikit lagi, yaitu bahwa aku tidak pernah merasa iri hati terhadap seseorang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, dan tidak pernah pula aku melakukan penipuan dalam segala aktivitasku”.

Dengan menundukkan kepala, Abdullah meninggalkan si penghuni surga sambil berkata: “Rupanya, yang demikian itulah yang menjadikan engkau mendapat jaminan surga”.

Saudaraku sekalian…

Untuk menjadi penghuni surga ternyata, menurut Nabi SAW, tidak cukup hanya sekedar menjalankan ritual ibadah seperti shalat, puasa, zakat, dll. Dari kisah di atas, ada dua hal yang dapat menjadikan seseorang menjadi penghuni surga, yaitu:

1— TIDAK IRI HATI (DENGKI) TERHADAP SESEORANG YANG DIANUGERAHI NIKMAT OLEH ALLAH.

Iri hati (dengki) dalam bahasa agama dinamakan HASAD. Nabi SAW memperingatkan umatnya dalam sebuah hadits:

“Hendaklah kalian menjauhi sifat HASAD, karena sesungguhnya sifat HASAD akan ‘memakan’ amal kebaikan seperti halnya api ‘memakan’ kayu bakar”.

Di akhirat nanti, ada golongan yang disebut oleh Nabi SAW dengan "MUFLIS". Suatu ketika Nabi SAW pernah bertanya:

“Atadruuna mal muflis? — Tahukah kalian apa itu bangkrut?”

Ada sahabat yang menjawab: “Bangkrut adalah dimana seorang pedagang yang rugi karena modalnya tidak kembali”.

Nabi SAW menggelengkan kepalanya, kemudian menjelaskan: 

“Muflis (bangkrut) adalah dimana seseorang rajin beribadah, ia melakukan sholat, puasa, zakat, namun disisi lain ia juga menghina, melakukan ghibah (gossip), memfitnah, mengadu domba dan menyakiti hati saudaranya. Pada saat dia akan dimasukkan ke dalam surga, orang yang pernah difitnah memprotes kepada Allah: ‘Ya Allah, dahulu waktu di dunia ia telah memfitnahku’, kemudian sebagai gantinya, Allah SWT mengambil amal kebaikannya dan menyerahkannya kepada orang yang telah difitnahnya. 

Kemudian datang lagi orang lain mengadukan hal yang sama, dan kemudian Allah SWT mengambil amal kebaikannya sebagai gantinya. Demikian seterusnya, sehingga amal kebaikannya habis, namun masih banyak orang yang pernah ia fitnah, ia hina atau ia sakiti. Karena amal kebaikannya sudah habis, maka dosa orang yang difitnah, dihina atau disakiti itu diberikan kepadanya. Sehingga timbangan dosanya lebih besar daripada timbangan pahalanya, dan akhirnya dimasukkan ke dalam neraka".

Na’udzubillah…

Saudaraku…

Keshalehan seseorang itu bukan hanya diukur dari banyaknya amal ibadah “mahdhoh” yang ia lakukan, tapi juga diukur sejauh mana sikapnya terhadap orang lain. Mungkin banyak diantara kita yang rajin sholat, puasa, zakat, dll, tapi kita juga seringkali menyakiti hati orang lain, menyakiti hati tetangga, menghina, memfitnah, ghibah, dll. 

Padahal kata Nabi SAW: “Tidak! demi Allah tidak beriman… tidak! demi Allah tidak beriman… tidak! demi Allah tidak beriman!". 

Para sahabat bertanya: "Siapakah itu wahai Rasulullah?". 

Beliau menjawab: “Orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya.” (HR. Bukhari)

Hubungan “vertikal” seseorang juga ditentukan oleh sejauh mana hubungan “horizontal”nya. 

2— TIDAK MELAKUKAN PENIPUAN (DUSTA/BOHONG) DALAM SEGALA AKTIVITAS KEHIDUPAN.

Nabi SAW pernah menjelaskan kepada seseorang yang bertanya tentang Islam. Nabi SAW menjawab: “Islam adalah meninggalkan bohong (dusta)".

Bohong/dusta juga termasuk salah satu kejahatan lisan selain ghibah. Bohong/dusta seringkali menghiasi obrolan kita. Rasanya belum “sedap” jika obrolan kita dengan orang belum dihiasi dengan kebohongan.

Bohong/dusta dapat mengarahkan seseorang kepada sifat khianat, yang merupakan salah satu sifat orang munafik.

Di bulan Ramadhan ini, seperti apa yang dijelaskan oleh Iman al-Ghozali mengenai sifat puasa "khusus bil khusus", adalah bukan hanya sekedar menahan lapar, haus dan hubungan sex semata, tapi juga mempuasakan semua panca indera dan hati kita, termasuk lisan, untuk tidak melakukan maksiat. 

Iri hati dan dusta adalah dua penyakit yang sangat berbahaya bagi kita. Hendaknya kita dapat menjauhi kedua sifat tersebut, agar kita (insya Allah) bisa mendapatkan predikat sebagai “Penghuni Surga".

Amin ya robbal ‘aalamin..

Wallahu a’lam…
____________
::
‪#‎af_m‬
Like ♡ Share
Twitter: @azharulfuad